Saturday, November 22, 2008

Misteri Angka Dalam Perjalanan Nasib Anda

Pengaruh getaran alam raya

Tak pernah bisa dilacak dengan pasti sejak kapan fenomena kepercayaan terhadap kekuatan baik dan buruk angka mulai dikenal orang. Namun diduga, Pythagoras - figur seniman, filsuf, dan guru dari abad 6 SM, secara tak langsung mendorong para pengikutnya melahirkan pemahaman baru, numerologi.


Phitagoras memandang alam berkaitan erat dengan matematika, sedangkan segala sesuatu di dalamnya adalah angka. Dengan mengkonversikan setiap unsur alam menjadi angka, usaha untuk memahami sifat alam raya pun semakin mudah.

Dengan cara ini, bisa ditemukan urutan dan keteraturan di balik berbagai sifat liar fenomena alam dan kekacauan yang ditimbulkannya. Juga berbagai pengaruh baik dari luar yang juga dirasakan di dalam diri setiap manusia. Prinsip Pythagoras yang selanjutnya berkembang menjadi dasar numerologi Barat, cenderung memilih angka dengan pertimbangan jumlah variasi yang sangat tidak terbatas, serupa dengan fenomena alam, namun kelebihannya, angka memiliki sifat kerteraturan yang logis.

Implikasinya, manusia yang juga bagian dari alam berarti segala aspek kehidupan yang melingkupinya pun - seperti karakter dan takdirnya - pun bisa dinyatakan dalam nomor, yang kemudian menjadi salah satu di antara dua prinsip dasar numerologi. Numerologi bukan hanya digunakan untuk menentukan watak dan nasib, namun juga agar orang bisa menapaki jalan hidupnya dengan lebih mudah dan mencapai keberhasilan.

Salah satu yang sering diamati berdasarkan numerologi adalah nama seseorang. Menurut para numerolog, nama terjadi tidak dengan kebetulan, dan erat hubungannya dengan kepribadian pemiliknya. Nama dan karakter seseorang adalah bagian dari pola perputaran bumi yang sangat kuat mempengaruhi alam bawah sadar orang tua saat menjelang kelahiran anaknya. Akhirnya, orang tua pun memilih nama yang secara tepat mengekspresikan karakter dan nasib sang anak.

Pola perputaran bumi tersebut identik dengan pendapat bahwa alam terdiri atas sejumlah besar getaran gelombang liar yang memberikan pengaruh berbeda bagi setiap individu. Alam raya seakan instrumen musik raksasa yang terus menggetarkan dawainya dan menyuarakan nada yang berbeda, yaitu angka 1 - 9 yang merupakan not dasar. Pengaruh energi di udara bebas yang dihasilkannya akan memberikan akibat yang berbeda pada setiap orang, tempat, atau benda.

Faktor lain yang mendorong lahirnya numerologi adalah begitu banyaknya unsur yang saling berlawanan di dunia ini. Para pengikut Pythagoras yakin, unsur-unsur tersebut - seperti siang-malam, terang-gelap, panas-dingin, kering-basah, hidup-mati, baik-buruk, laki-perempuan, dll - punya peran sangat penting dalam konstruksi alam. Dari pemahaman tersebut ditarik kesimpulan berupa daftar karakter utama manusia yang saling berlawanan yang dianut dalam numerologi modern.


Bila angka 1 mewakili karakter orang yang aktif, kuat, berinovasi, berbakat memimpin, sebaliknya angka 2 untuk mereka yang pasif, lemah, pengikut. Angka 3 yang cerdas, kreatif, beruntung, dan selalu berhasil, berlawanan dengan angka yang bodoh, kurang kreatif, kurang beruntung, pekerja keras, mudah gagal. Jiwa petualang namun rapuh pada angka 5, tidak akan dimiliki angka 6 yang sangat mapan. Kemisteriusan dan kesenangan menarik diri dari keramaian dunia milik angka 7, sangat berentangan dengan jiwa angka 8 yang senang terlibat urusan duniawi dan materialisme. Terakhir angka 9 yang mewakili hasrat pencapaian kestabilan mental & spiritual.

Angka-angka penting lainnya menurut numerologi Barat adalah 12 atau angka sempurna dan angka 13 atau angka sial. Pertimbangannya tak lain, banyak faktor di dunia melibatkan angka tersebut, misalnya 12 bulan dan rasi bintang, 12 jam untuk masing-masing siang - malam, 12 dewa Olympus, 12 suku Israel, dll. Sedangkan angka 13, dianggap angka sial, karena berada 1 poin di atas angka sempurna. Segala sesuatu yang dianggap melebihi nilai sempurna, juga akan melebihi kekuatan puncak yang dikhawatirkan justru akan melahirkan kegagalan.

Hampir serupa dengan pendapat pengikut Pythagoras, Indra Gunawan cenderung memandang, "Kebutuhan masyarakat modern terhadap pegangan-pegangan di tengah arus ketidakpastian, ketidakpercayaan terhadap kemampuan diri-sendiri, terhadap masa depan, karena begitu cepat suatu keadaan bisa jadi berubah."

Banyak kejadian sulit dimengerti, mengapa pada suatu masa banyak malapetaka menimpa seseorang dan lingkungan dekatnya. Misalnya, ada seseorang yang oomnya meninggal, tidak lama lagi saudara yang lain meninggal, selanjutnya beruntun ada kemalangan berupa kematian anggota keluarga yang lain. "Orang pun jadi terdorong untuk berpikir apanya yang salah? Mengapa beruntun, dalam waktu dekat banyak yang meninggal dengan berbagai penyebabnya. Sehingga, kita dituntun pada satu keyakinan bahwa di dunia ini ada kekuatan adikodrati atau supranatural yang perlu dipahami. Barangkali numerologi pun digunakan sebagai untuk memahami kekuatan supranatural tersebut," Indra Gunawan mencoba menganalisis.

Bahkan, menurutnya lagi, orang yang beragama pun seolah-olah masih memerlukan suatu kepercayaan tambahan. Pembenaran yang dilakukannya, karena hal-hal semacam itu tidak telalu jelas disebutkan dalam ajaran agama yang berarti itu masih terbuka untuk dilakukan penafsiran. "Cara tersebut dipandang sebagaimana layaknya ilmu fisika atau ilmu pengetahuan lainnya, yang meski tidak tidak diatur dalam agamanya tapi kan tidak berarti harus diabaikan atau tidak benar. Tentunya, sepanjang ilmu itu tidak mengubah kepercayaan seseorang."

Tiga Belas = Empat = mati

Bila numerologi Barat memandang angka 13 sebagai angka sial, hal yang sama berlaku pula di masyarakat Cina. Namun mungkin dilihat dari sudut pandang yang berbeda. "Kalau dijumlah 13 hasilnya 4. Empat sendiri dalam bahasa Cina bila diucapkan dengan intonasi berbeda bisa memberikan 2 makna yaitu empat dan mati," ujar kang Hong Kian yang lebih sering bertindak sebagai konsultan di bidang usaha.

Selanjutnya, pria yang telah beberapa kali menerbitkan buku ramalan tahunan itu menjelaskan bahwa fengshui sangat berbeda dengan numerologi Cina. "Angka yang dipergunakan dalam fengshui terbatas sebagai alat menghitung untuk menentukan saat-saat selaras dan tidak selaras yang dialami manusia, untuk pembagian ruang, dan sebagainya. Jadi, bukan seperti numerologi bahwa angka memiliki kekuatan baik atau buruk."

Tidak sedikit ia didatangi orang yang bertanya benar tidaknya pengaruh buruk angka 4 atau deretan angka yang mengandung angka 4, "Pendapat itu bisa jadi karena orang senang mencocok-cocokan. Sama halnya dengan angka 8 yang bila diucapkan dengan intonasi berbeda bisa bermakna lain yaitu kaya. Sementara bentuk angka 8 yang tidak terputus sering diartikan sebagai dinamis dan berkesinambungan. Tak heran bila angka 8 banyak disukai orang," ujarnya lagi sambil berkelakar kalau kalau angka 8 tertawa bisa menjadi 3 yang berarti malah banyak membuang.

Menurut Kang Hong Kian, sebenarnya angka tidak perlu ditakuti, "Karena kalau mau diotak-atik semua angka berarti sial. Taruh kata angka 0 yang meski memiliki bentuk tidak terputus tapi dianggap tidak punya nilai, kosong. Angka 1 bentuknya kurus, angka 2 seperti bebek, jalannya lambat, angka 3 tertawa berarti banyak membuang, 4 mati, terus saja jelek seperti itu," tuturnya sambil memberikan contoh lelucon angka sial di masyarakat yaitu 12 dan tujuh berupa seruan Celaka 12 atau Pusing 7 Keliling.

Anehnya, saat ini muncul suatu pertentangan angka 7 yang dinilai baik pun - kini ditakuti oleh kelompok yang terjun di dunia percaturan bisnis seperti para pialang saham di Wall Street. Karena menurut perhitungan, hingga tahun 2003 nanti angka 7 yang memegang kendali usaha. "Padahal tahun ini adalah tahun 1997, mengandung unsur 7, bukan. Mereka sangat kuatir akan mengalami masalah besar," tutur Kang Hong Kian sambil menceritakan ketakutan terhadap hal-hal tertentu, termasuk pula angka, bisa muncul karena kejadian yang berulang-ulang yang juga diotak-atik berhubungan dengan sebuah angka. Padahal bisa saja semua itu terjadi karena kebetulan atau kalau memang dipengaruhi unsur itu, maka perlu penelitian yang lebih lanjut.

Lain lagi dengan mazhab dari Jawa yang memiliki konsep sembilan keramat. Bagi orang Jawa, angka 0 - 9 itu semuanya sama baiknya dan tidak ada yang dianggap angka naas, angka celaka, atau angka pantangan yang harus dijauhi. Namun demikian, menurut pakar kejawen Drs. Subalidinata, banyak bukti bahwa konsep sembilan dinilai keramat. "Ambil contoh isoteris bagi sistem kepercayaan orang Jawa masa lalu, mereka percaya terdapat sembilan dewa penguasa mata angin terdiri dari delapan dewa penjuru mata angin dan satu dewa di pusat. Dewa penguasa mata angin itu berjumlah sembilan yang masing-masing memiliki karakter yang berbeda. Di antara jumlah sembilan dewa tersebut yang paling dihormati adalah dewa tertinggi yang berada di tengah yaitu dewa kesembilan."

Konsep sembilan itu, menurut Subalidinata, berpengaruh juga terhadap aspek kelahiran anak manusia, artinya, orang Jawa masa lalu sangat bangga dan mengharapkan sekali jika anaknya lahir pada hari dan pasaran yang mengacu pada perhitungan nilai atau neptu jumlah sembilan.

Rincian penjabarannya adalah:


Hari yang berjumlah tujuh, bagi orang Jawa mempunyai rumus nilai (neptu) sendiri-sendiri sebagai berikut: minggu nilainya 5, senin 4, Selasa 3, Rabu 7, Kamis 8, Jumat 6, Sabtu 9. Selain tujuh hari tersebut, orang Jawa memiliki hari pasaran yang berjumlah lima yang masing-masing memiliki nilai berbeda: Kliwon 8, Legi 5, pahing 9, Pon 7, wage 4. Hari tujuh dan pasaran lima ini disebut sapta panca warsa. Dengan demikian, jika seseorang lahir pada Selasa Wage, karena Selasa bernilai 7 dan Wage 4, ini berarti hari kelahiran tersebut mempunyai neptu, 7 + 4 = 11. Tapi bagi orang Jawa hari kelahiran yang dianggap baik adalah weton atau hari kelahiran yang memiliki nilai kelipatan sembilan yang jatuh pada hari pasaran Sabtu Pahing. Sabtu 9 pahing 9, jadi 9 + 9 = 18, sama dengan 1 = 8 = 9. "Konsep sembilan ini juga menjadi pilihan orang Jawa masa lalu untuk mendirikan rumah, menentukan hari pernikahan, dan sebagainya."

Lebih jauh dosen yang juga pengajar pedalangan di ISI Yogyakarta ini menerangkan soal kekeramatan konsep sembilan yang konon sampai merambah pada perhitungan perjodohan manusia. Perjodohan yang ideal bagi orang Jawa dulu itu harus berkelipatan sembilan. Artinya, hari kelahiran suami ditambah hari kelahiran istri yang baik berkelipatan 9. Misalnya, jika si Udin kelahiran Rabu wage yang memiliki nilai 11 (Rabu 7, wage 4), maka jodoh yang dianggap ideal, istrinya seharusnya memiliki nilai kelahiran 7 atau selasa wage (selasa 3, wage 4). Jadi hari kelahiran suami 11 + hari kelahiran istri 7 = 18 = 9. Atau bisa juga si istri itu memiliki hari pasaran bernilai 16 yang jatuh pada rabu pahing, supaya berjumlah 27 = 9.

"Konsep sembilan ini pada masa lalu, sekitar tahun 40-an ke bawah, masih banyak ditaati oleh masyarakat jawa, yang kejawen, baik untuk menentukan hari pernikahan, perjodohan, maupun pertanian, meski sekarang konsep ini sudah luntur," ujar Subali.

Lebih jauh ditambahkan lagi, dari 30 pawukon yang dikenal oleh masyarakat Jawa, menurut Subali, wuku atau bintang yang baik adalah wuku yang ke sembilan yang disebut wuku Julungwangi. Mengutip kitab Primbon Betaljemur Adammakna, pakar budaya jawa ini mengatakan, orang yang dilahirkan di bawah wuku ke sembilan ini, sangat baik karena dilindungi dewa bumi bhatara Sambo. Mereka memiliki simbol kayu cempaka dan burung kutilang, karena itu pandai berbicara, jauh dari kepentingan duniawi dan banyak disenangi orang.

Lalu mengapa sembilan ini menjadi keramat, bukannya angka 1 atau 10? Menurut Subali, angka sembilan adalah angka tertinggi, simbol kesempurnaan sekaligus kerahasiaan. Di atas sembilan adalah 0 (kosong). Lalu budayawan Jawa ini memaparkan beberapa contoh realitas kehidupan berkonsep sembilan yang hingga kini belum terpecahkan akal manusia seperti. Mengapa wanita mengandung selama sembilan bulan sembilan hari, "Perhitungan oarang Jawa sembilan hari, bukan sepuluh hari, karena hari perhitungan Jawa lebih pendek," ujarnya. Demikian pula, mengapa jumlah wali ada sembilan yang sering disebut wali sanga. Juga mengapa jumlah lubah dalam manusia ada sembilan yang masyhur disebut sebagai nawa sanga atau istilah dewa watak sanga? Suatu misteri yang tak gampang ditebak.

Senada dengan pandangan di atas, pakar filsafat jawa, Dr. Damardjati Soepajar mengatakan, sembilan adalah angka puncak dan dari aspek filsafat jawa memiliki makna filosofis yang tinggi. "Sembilan adalah batas kemampuan dan penalaran pikiran manusia, sebab setelah sembilan akan kembali kosong lalu mulai lagi yang pertama, satu." Konsep sembilan yang menurut Subalidinata merupakan angka gaib, bagi Damardjati sembilan dikatkan dengan megatruh, yaitu nama sekar atau tembang jawa yang menempati posisi urutan ke sembilan sebelum sekar Kinanti. Megatruh, menurut Damardjati, artinya lepas dari ruh, merupakan puncak perjalanan hidup manusia yang akhirnya masuk ke alam terang. "Megatruh bisa juga diberi makna lepas dari permasalahan lubang sembilan (nawa sanga) di dalam tubuh manusia. Sudah tidak ada siapa-siapa lagi."

Diabaikan atau dipedulikan

Sulit-sulit mudah dalam menghadapi orang yang takut pada angka. Terhadap orang semacam itu yang minta nasihat, Kang Hong Kian akan memberikan penjelasan sedemikian rupa sehingga akhirnya mereka tidak akan dipusingkan oleh masalah angka. Mengenai nomor rumah, "Kalau rumah itu sudah telanjur dimiliki, saya akan mengatakan itu hanya kepercayaan turun temurun yang mungkin ditambah-tambahi dengan dongeng."

Lain halnya kalau orang itu baru berencana membeli rumah, "Saya tidak akan menganjurkannya membeli, karena melihat efek psikologis yang ditimbulkan. Jangan sampai ia stres, karena setiap kenalannya akan mengatakan nomor rumahnya jelek," ujarnya sambil menunjukkan ketidakpercayaan terhadap angka dengan menempati rumahnya yang bernomor 14 alias mengandung angka 4.

Pendapat serupa muncul dari Indra Gunawan, "Cerita-cerita yang terus muncul itu akhirnya banyak membangun sugesti. Yang sering jadi masalah, seperti 4 adalah mati telah tertanam dalam alam bawah sadarnya, langsung terbangun rasa percaya atau ketidakpercayaan. Mau tak mau, pertimbangan anti angka 4 itulah yang akan mempengaruhi dirinya dalam kehidupannya.

"Sebenarnya, kalau orang mau mengabaikan, ya abaikanlah saja. Tidak usah pedulikan sama sekali. Tapi kalau orang tahu, kemudian sedikit mulai terpendam kepercayaan semacam itu di bawah sadar atau pikirannya, tentu akan memberikan sugesti-sugesti dalam dirinya. Kalau sudah begini, ya cobalah memperhatikan sekalian." Indra Gunawan pun lalu mencontohkan nomor rumah yang ditempatinya, 64, "Jadinya seperti main ilmu gathuk. Memang mengandung angka e yng juga berarti mati. Tapi kalau diotak-atik dengan cara lain, 6 + 4 = 1, berarti baik. Bisa juga 64 berarti 8 kuadrat, baik juga 'kan."

Sekian lama belajar dan mengamti berbagai masalah adikodrati, Indra Gunawan mengaku akhirnya menemukan jalan keluar terbaik, menyaring segala sesuatu menurut rasio, kalau ilmu tersebut bisa diterima, ia pun akan menerapkannya. "Numerologi hanya akan memberikan rasa aman pada penganutnya. Yang lebi penting lagi, bagaimana kita bisa tetap optimis, memandang segala sesuatu dari sudut yang positif."

No comments:

Post a Comment

Labels